[6] [WAHABI] [slider-top-big] [WAHABI]

Madzhab Salaf

| 1 Comment
Madzhab Salaf pada hakikatnya tidak ada
Kalau dibalik lembaran sejarah Islam dari zaman Nabi sampai zaman Sahabat, sampai zaman Tabi’in dan zaman  Tabi’ Tabi’in, tegasnya sampai tahun 300 hijriyah, tidak dijumpai adanya suatu madzhab yang bernama “Madzhab Salaf”
Juga kalau dibalik Al-Quran yang 30 Juz dan Hadits-hadits Nabi yang tertulis dalam kitab-kitab Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Daud, Nisai, Ibnu Majah, Muwatha’, Musnad Ahmad bin Hanbal dll, tidak pernah dijumpai tentang adanya satu madzhab dalam Islam yang bernama Madzhab Salaf.
Bahkan batas waktu yang tegas antara yang dinamai zaman Salaf dan zaman Khalaf tidak ada keterangan, baik dalam Al-Qur’an maupun dalam Hadits. Apakah yang dinamakan zaman Salaf itu 100 tahun, 200 tahun, 300 tahun, 400 tahun atau 500 tahun sesudah Nabi ? tidak ada keterangannya yang pasti.
Yang ada terlukis dalam sejarah hanyalah Madzhab Hanafi yang dibangun oleh Imam Abu Hanifah di Kufah (lahir 90H – wafat 150H), Madzhab Maliki yang dibangun oleh Imam Malik bin Anas di Madinah (lahir 93H – wafat 179H), Madzhab Syafi’i yang dibangun oleh Imam Muhammad bin Idris as Syafi’I di Bagdad dan di Mesir (lahir 150H – wafat 204H) dan Madzhab Hambali yang dibangun oleh Imam Ahmad bin Hanbal di  Bagdad (lahir 164H – wafat 241H).

Semuanya itu adalah Madzhab dalam furu’ syariat, dalam fiqih.
Disamping itu ada Madzhab-madzhab pada zaman Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in yang tidak panjang usianya dan sekarang tidak terkenal lagi seperti Madzhab Auza’i di Syam, Madzhab Leits di Mesir, Madzhab Tsuri di Iraq, Madzhab Daud Zhahiri di Andalus, Madzhab Zaidiyah di Yaman dan lain-lain, tetapi dapat dipastikan bahwa Madzhab Salaf tidak ada


Sebagai dimaklumi, bahwa arti  “Salaf” ialah “orang yang terdahulu”. Orang yang terdahulu itu ada yang baik dan ada yang buruk. Pada zaman Nabi, bukan saja yang ada itu orang Islam, tetapi ada juga orang Yahudi, Nashara, Munafiq dan pada zaman Sahabat selain orang Islam sejati ada juga orang yang sesat seperti kaum Mu’tazilah, Khawarij, Syi’ah, Qadariyah, Jabariyah dan pada zaman Tabi’in muncul macam-macam manusia disamping orang-orang yang saleh-saleh.
Pendeknya, di zaman dulu itu ada orang yang saleh dan ada pula orang yang taleh (bahasa minang untuk “tidak saleh” atau “tidak berpendirian”).

Kalau kita dianjurkan mengikuti Madzhab Salaf, dengan arti Madzhab orang yang terdahulu, maka itu berarti kita dianjurkan bukan saja mengikuti orang-orang yang baik-baik tetapi juga mengikuti orang yang jelek-jelek.
Sumber : “40 Masalah Agama” Buku keempat. Alm. KH Siradjuddin Abbas, 153-155, cetakan 7 Januari 2008. Buku keempat ini cetakan awal bulan Agusutus 1976. Tentang Masaah Salaf dan Khalaf, Beliau uraikan dari halaman 149 s/d 211

Pembaca dapat merujuk pada buku-buku beliau untuk mengetahui lebih lanjut tentang madzhab salaf sesungguhnya. Sebuah peninggalan yang bermanfaat buat generasi-generasi berikutnya. Semoga Beliau dirahmati Allah.
Kesimpulan kami,  Syaikh Ibnu Taimiyah mempergunakan nama madzhab “generic” agar dikalangan muslim beranggapan sesuai dengan yang dimaksud sebagai “generasi terbaik”.  Padahal sesungguhnya untuk “membungkus” nama Madzhab Taimiyah

Bahkan Syaikh Ibnu Taimiyah menfatwakan sendiri bahwa madzhab beliau adalah pasti benar.

Barangsiapa mengingkari penisbatan kepada salaf dan mencelanya, maka perkataannya terbantah dan tertolak ‘karena tidak ada aib untuk orang-orang yang menampakkan madzab salaf dan bernisbat kepadanya bahkan hal itu wajib diterima menurut kesepakatan ulama, karena mazhab salaf itu pasti benar[Majmu Fatawa 4/149]
Berikut tulisan saudara-saudaraku kaum Salaf(i)  (nama pengikut Syaikh Ibnu Taimiyah) yang merujuk kepada fatwa tersebut,  http://www.almanhaj.or.id/content/1474/slash/0

Oleh karena banyak fitnah atas metode pemahaman mereka maka saya sarankan bebaskanlah diri kita dari mereka.
Jadi sudah saatnya kita merujuk (fanatik) kepada Al-Qur’an dan Hadits
Sesuai firman Allah dalam surat An-Nisa’ ayat 59 yang artinya:

Jika kamu berselisih pendapat maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (Sunnah-nya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.”

Bebaskan akal dan hati kita untuk mempersiapkan menerima anugerah Al-hikmah dari Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang sebagaimana firman Nya yang artinya.

Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)” (Al-Baqarah – 269)